jump to navigation

Hari Hari yang Sama Saja J, Juni , 2010

Posted by mirya18061985 in Uncategorized.
trackback

07.49

Pagi pagi sejauh 9.5 km itu kuhitung setiap hari, bolak balik pulang pergi. Setiap sampai di sebuah ruko yang berdiri plang bertuliskan ‘Danamon Simpan Pinjam’. Aku parkir motorku disana dan pack barang untuk masuk kekantor dua tingkat itu. Mungkin itu 2.5 tingkat atau bagaimana, tapi aku ga pernah ke tingkat yang setengahnya…cari masalah aja.

Aku sempat kan diri untuk bergaya di pintu cermin yang selalu menyambutku setiap aku masuk ke kantor dengan tulisan ‘Kantor Fungsional’.. hahaha aku merasa keren masuk pintu itu, entah kenapa.

Pagi itu Ozi dan Adi sudah menyambut di ruangan yang lebih luas daripada ruangan sebelumnya yang ada di depan. Kedua ruangan ini hanya di pisahkan dengan penyekat  ruangan yang standar. ‘Ohayo’ itu kata yang hampir diucapkan Ozi setiap aku sampai kesana. Arah tujuanku yang pertama adalah ke belakang bagian dapur, bukan dapur, disana ga ada dapur. Tapi yah…hampir mirip dapur lah.. hehe. Aku menggantung Jacket hitamku disana lalu menggotong bawaanku ke arah meja kerja dan melihat sekelilingku sekali lagi.

‘Mbak pinjem ini’ ah Adi mengagetkan ku. ‘Opo To Mas?’

Oo rupanya dia mau pinjam sesuatu yang namanya map bening di filling cabinet ke 2. Setelah aku mengambilkan stopmap yang dimaksud, Reky dan Fajar datang dan memperlihatkan muka kucel setelah bangun tidur..entah mandi atau ga mereka.

Aku langsung menengok ke arah Chandra ..oo sedang bikin perjanjian kredit. Jari jemarinya terus menari di atas keyboard komputer dan matanya terus tertuju pada layar komputer sambil sesekali berhenti memikirkan sesuatu.’Asu’ wahaha itu kata kata wajib disini ya??Ahh bos ku juga sedang sibuk dengan komputer dan teleponnya. Dia sibuk mengisi kolom kolom yang dia sediakan sendiri. Laporan laporan dan laporan setiap pagi siang sore dan malam.

Mereka para prajurit prajurit sudah datang, mungkin ada beberapa saja yang belum datang. ehm…mereka jumlahnya tidak terlalu banyak hanya belasan saja. Memang aktivitas paling sibuk adalah di pagi dan sore hari.  Aku segera membuka kunci filling cabinet yang aku pinjam Chandra di laci bawah komputernya. Ada gembok ada kuncinya ada tongkat pramukanya…hahaha memang agak repot. Mungkin itu disebut brankas kecil kecilan. Aku mengeluarkan setumpuk stopmap merah dan biru serta kertas kertas yang harus segera ditandatangani pagi itu. Kenapa harus ditandatangani. Mungkin untuk alasan klise ‘sudah mengetahui’ padahal sebenarnya asal saja tandatangan supaya tidak jadi ‘temuan’ susah kalo sudah ketemu sama kata kata ‘temuan’ itu.

Satu persatu aku bagikan stopmap sesuai dengana nama masing masin PIC. Mereka juga sedang sibuk mengawali harinya. Ada yang hanya mondar mandir, ada yang mengisi buku tebal yang disebut DSAR (Daily Sales Activity Report) DCAR (Daily Sales Collection Report) hahaaha aku bisa menyebutnya dengan benar. Aku yakin salah satu dari mereka ada yang tidak tau apa kepanajngan DSAR dan DCAR.

‘ndi PK ne??’ ‘Ki lho bang…tenang wae…’

Setelah mendapat berkas yang dimaksud, Chandra langsung cabut untuk membereskan kertas kertas yang tersebar, menandatangani dan segera merapikan kembali sambil sesekali ke arah komputer untuk menge-check dan menyamakan antara catatan dikomputer dan catatan di berkasnya. Setelah komplit semua, Chandra langsung menuju ke Mas Afif yang sedang sibuk juga mengurusi lainnya di depan komputer. Hahaha Mas Afif memang bos yang fleksibel. Dia selalu ikut canda gurau teman teman sekantor disana, tapi juga tidak pernah kehilangan wibawanya sebagai pemimpin. Bagaimana caranya dia bisa mengatur itu semua sedemikian rupa, itu hanya dia dan Tuhan yang tau. Chandra langsung segera menyodorkan berkas berkas itu tanpa berkata kata apa apa. Mungkin karena sudah pekerjaan sehari harinya, Mas Afif langsung mengerti yang mana yang harus ditandatangani.

Sedikit demi sedikit teman teman berhamburan keluar dan hanya akhirnya tiga orang yang berada di kantor. Guntur yang biasanya terakhir keluar

‘Sek yo mangkat sek.. .’ Yok!!!’

Chandra juga ternyata masih sibuk juga dengan mesin scan dan komputernya. And i dont know what to do sejak BWMK (Batas Wewenang Memutus Kredit) ku dicabut.

10.00

‘Sopo to, Indrayana? MBU?’

Rasa penasaranku mulai timbul karena adanya rumor para pembesar di tempat kerjaku akan datang berkunjung ke kotaku ini.

‘Mien Hari’ Mas Afif langsung menimpali.

Ow…hmm bos nya bos divisi di tempat ku bekerja tuh…serem ah..

Aku lupa kalau aku di percaya untuk meng handle berkas berkas lain selain pencairan. MRPK (Memorandum Review Persetujuan Kredit) kali ini aku dating. Aku berkali kali mengecek bejibun berkas seperti itu supaya cepat selesai dan kotak kotak dibawah form form itu harus segera di lengkapi dengan tanda tangan para pejabat. Aku duduk di meja Ro (Relationship Officer) yang lumayan lebar itu. Huft berantakan sekali sih, mana si Imam itu…OB (Office Boy) kok ga pernah masuk udah di baikin ga bisa baik, dimarahin aja juga ga nyantel… waktunya diganti dia!!

Tiba tiba pintu depan terbuka, ada 2 orang laki laki muncul, yang satunya agak tinggi dan yang satunya berkumis. Mereka berdua menggunakan pakaian putih dengan name-tag Oranye.

Tanpa sapaan mereka bertanya sambil tersenyum ‘ Mas Afif ada?’.

Aku sambil bingung langsung menunjukkan ke arah bos ku dengan menggunakan bolpenku. Chandra juga rupanya agak penasaran dengan kedua orang ini, siapa mereka!Mas Afif langsung bangun dari duduknya dan menyambut ramah sambil menjabat tangan. Merekapun menjabat tangan ku dan Chandra.

‘Meeting opo?’ salah satu dari mereka menjawab ‘as mboh!!’

Yang sampai hari ini aku bingung apakah mereka punya dress-code kalau meeting selalu mengenakan baju hem putih. Apa itu ciri ciri orang di sini? Tapi mungkin agak kelihatan bersih aja.

Percakapan berlanjut, ‘Training Sabtu iki training meneh’….’sesuk senin karo bang Widar, Boost Camp

Mereka hanya tersenyum saja lalu mengalihkan pembicaraan ‘ sek nunggu Mas Tri karo Yanto’.

Tiba tiba orang berperawakan agak gempal dengan rambut yang agak botak turun dari lantai 2. Dia adalah PUK (Pimpinan Unit Kerja) dari collector di Semarang namanya Benni. Orangnya agak nyentrik dan suka bicara yang aneh aneh. Aku juga tidak tau kapan dia masuk dan dia pergi di Kantor ini. Dan sejak kapan kantornya pindah ke lt 2 harusnya memang dia berkantor di Kantor Wilayah. Benni rupanya juga agak kebingunagan siapa kedua tamu yang datang di unit ku ini. Tapi seperti biasa langsung saja mereka bertiga bersalaman dan saling mengenalkan diri masing masing.

Berlagak agak kenal Benni menyapa ‘Teko kapan?’… ‘Nembe wae’

Kedua tamu itu sudah menghilang kembali ke mana pun aku tak tau. Kantor kembali sunyi semua kembali bekerja dengan kesibukan yang sama saja setiap harinya. Bunyi mesin fax tiba tiba memecah kesunyian dan 3 kertas sudah tercetak. Hmm tugasku untuk memeriksa untuk siapa dan apa isinya. Rupanya, kolom yang belum ditandatangani adalah kolom Colls.  Benni rupanya sudah kembali ke atas.. Walah tugasku juga ya…Aku langsung menuju ke atas. Hosh Hosh Hosh anak tangganya tidak terlalu kecil tapi capek juga ya.. Ga papa lah sebagai pengganti olahraga.

Ruangan lantai 2 memang tidak besar hanya Wastafel, kamar mandi, tempat sholat dan ada pintu abu abu yang menyembunyikan ruang besar dan dingin didalamnya. ‘Krieeek’ bunyi khas pintu yang tidak asing lagi dan suaranya bisa terdengar sampai ke lantai 1. Ada dua orang rupanya disana; Trias yang juga termasuk dalam jajaran Collection; dan ada Benni sendiri. Mereka berdua sibuk dengan laptop mereka masing masing. Entah itu pekerjaan atau browsing hal lain supaya terlihat sibuk. Ruangan itu besar dan luas, karena dulunya adalah tempat Desk Call yang sekarang sudah dihapus jejaknya. Disana terdapat 5 sampai 6 buah meja yang letaknya sudah tidak beraturan, dua pendingin ruangan serta asap rokok dimana mana. Disana juga ada jendela yang pemandangannya bisa langsung ke depan kantor. Hmm pemandangan gersang dan tidak begitu bagus. Tanah lapang dengan Paving Block yang sudah ditumbuhi semak belukar dan rumput teki. Hahaha aku baru tahu itu rupa isi di balik tembok ‘Berlin’ yang menghalangi pandangan pintu kantor di lantai satu.

Mereka berdua sedang bicara apa aku ga tau dan aku ga mau tau…tiba tiba saja mereka berdua tertawa terbahak bahak dan mengomentari hal hal di balik laptop mereka. Setelah mendapat tanda tangan yang dimaksud aku langsung kembali. Sebenarnya, aku malas berbincang dengan mereka, mereka selalu menyangkutkan semua hal dengan hal yang berbau porno aksi.

11.00

‘Loh kok tekan kene, Cell’

Tukang audit di Seamrang dan sekitarnya memang suka mampir ke kantorku hanya untuk berbincang hal yang penting atau cuma berkunjung saja.

‘Iki mau bar tekan Kanwil..ning Kanwil wis…Jam Istirahat sui’

rupanya dia mengenakan batik, setauku memang dia ga pernah pake batik, dengan perut gendut dia menyombongkan diri…

‘iki aku tuku ning Salatiga …99.000’ seluruh kantor langsung saling berkomentar dan tertawa.

Tiba tiba ada suara nyaring, orang yang agak putih dan masih mengenakan helmet hitam sambil senyum senyum, dia Deddy Co (Credit Officer) yang dulu adalah Co sini juga

‘Apa apaan iki?’ jawaban mereka atas kedatangan Deddy selalu ada kata kata ‘Loh..!!!??’ aku tau kenapa mereka heran karena sejakdeddy di tempatkan di Unit dulu tempat aku bekerja di ‘pingit’ tidak bisa kemana mana..Hahaha bagaimana caranya dia bisa meloloskan diri dari sana?

Lebih mirip terminal karena disini banyak orang yang berkumpul. Mereka membicarakan hal yang tidak penting lama lama.

‘Wah kudu ono sepeda iki?’ rupanya ada topik lain lagi untuk dibahas..’Pak Widar dadi ketua The Bike Nasional’ Marcel mulai lagi ‘Sepedane 6 juta’ Suara Benni muncul lagi ‘ 2.9 juta’ ‘ mosok…cerito dhewe kui’…mereka berdua berdebat ‘weh dimark-up kuwi!!!’ sontak tertawalah seisi ruangan karena mereka berhasil memasukkan kata kata yang dbiasa dipakai dalam pekerjaan ke percakapan sehari hari. ‘ kalo itu ga ada urusan sama jabatan.. kalo beli mahal beli aja jare Bang Toho’.

12.00

‘Nek minyak sere iso rak?’ ‘ minyak kan nggo opo to?’ …’nek rak panganan rak entuk’ Gaya marcel menjelaskan antara yang boleh dan yang tidak.

Bos ku apa kabar ya kok tidak kedengaran suaranya…dari tadi dia memang disibukkan dengan teleponnya, telepon kantor dan telepon genggam. Bisa tuli lama lama tuh…Saat menutup teleponnya, dia langsung berbincang dengan Chandra

‘Kamu tu kalo ngomong opo belum di proses CO nya jangan bilang approve‘ hahaha bergosip dia…’Modyar rasa’no kowe!!’ ya sudah lah biarkan dia bergosip dulu kasian kerjaannya banyak.

Deddy yang masih anteng disana tiba tiba bersuara kencang’ Prasojo ki salahe ning Mapping‘…oo rupanya sesi tanya jawab dengan Marcel belum selesai ‘Yo ngomong ngene…nek cash pick up ojo Minggu’ …dibantah lagi dengan Deddy ‘ umpamane aku nagih 25..lha kuwi ono angsurane sing 20x diropel, rak gelem’…’ jan e podo karo wong nunggak ki moduse podho’ itu bukan tanya jawab tapi uneg uneg lebih tepatnya.

Karena aku bingung harus bicara apa, aku yang terkenal sebagai Ratu Facebook langsung buka Handphone dan Cek status orang orang hmm..ada Rina Sumekar; salah satu pegawai di tempatku bekerja tapi ditempatkan di Kota Yogyakarta “otw ke semarang” itu kata postingan di Facebooknya. aku pun komentar “mampir Karangayu,Jeng”..”meh disuguhi opo?”, “melu survei wae!!!”

‘‘Iki ono Wahyu BWMK (Batas Wewenang Memutus Kredit) ne tujuh juta…weidyaannn’,’iki Deddy nol.’ ‘ iki lho aku rak ono,dicabut’

Kalau komputer sedang tidak dipakai baru aku bisa mengecek dan bekerja menyelesaikan yang belum selesai.

‘Eh mbok aku print-ke!!’ kata Marcel yang sudah mengambil posisi tidur…

Siang itu sunyi hanya tinggal aku dan Marcel karena semua orang sudah pergi ke jalan mereka sendiri sendiri, terlebih Mas Afif dan Chandra selalu sibuk surveii ke tempat tempat yang jauh dan dekat. Tiba tiba terdengar suara sepeda motor baru dan ternyata suara Benni dan Trias yang menggumam diluar..

’Gayane etok etok turu, krungu suaraku langsung etok etok turu..!!’

‘Iki lho mas…mas gembul’ sambil aku menyodorkan Billing Statement dari suatu bank swasta terkenal.

13.00

Sunyi sepi karena Marcel sudah kembali ke kanwil untuk melanjutkan meeting disana,

Dan Benni ‘aku meh nggawe ATM sek…genah ATM ku ilang lho ya wingi.’

Trias turun ke lantai 1 cuma ingin menanyakan Benni lagi

‘Lho Benni ndi?’ aku malas jawab,cuma bilang

‘Lha mau mbok silengi opo?’……..sambil menepuk kantong celananya ‘wah…rak nggowo STNK meneh kae!’

Lalu dia keatas lantai 2 sambil nonton Video yang baru tenarnya saat itu yaitu video antara Ariel dan Luna Maya dan Cut Tari sambil mengomentari ‘iki bojone Cut Tari ngomong opo ya?’

13.00 – 15.00

Hanya aku sendiri yang sedang menyelesaikan pekerjaan yang bikin bingung diriku sendiri. Sebenarnya aku tidak sendirian disana, ada Trias di lantai atas tapi aku tidak peduli apa yang dia lakukan diatas sana.

15.00

‘To, beliin Nasi Padang dong…yang biasanya itu…deket belokan yang disampingnya…nah itu yang ada palang…itu yang ayam ajah ya…’ itu adalah suara Bos Bisnis yang memang akhir akhir ini suka mampir di unitku.

Orangnya lucu sih mungkin karena tubuhnya yang tambun dengan kulit yang putih. Yang pasti logat Sumatera nya yang kental walaupun sedang ber Bahasa Indonesia atau sesekali mencoba Bahasa Jawa. Beberapa menit kemudian, Akhirnya Mas Afif dan Chandra datang juga. Mereka berdua selalu pasang tampang kaget dan yang paling aku ingat adalah sapaan pertama Mas Afif ke Bang Hendra adalah ‘Bozz!!! Hahahahaha…lalu mereka berdua mulai sibuk dengan komputer dan telepon mereka.

Sang Sopir Anto membuka pintu depan kantor beberapa menit kemudian, Anto membawa bungkusan plastik hitam yang berisi pesanan Nasi Padang bos nya.

‘Pak , ayam 8000 trus parkirnya 1000, ini yang ini..’

Sambil makan, ’Eh itu si Benni ngomongnya Conven …gitu…kenceng gila!’ Mas Afif menjawab ‘hahahahhaa’ lalu Bang Hendra menimpali ‘ dia Tanya 200.000 yaelah samalah..!!’ dengan jawaban yang sama Mas Afif cuma tertawa.

Chandra lalu menyatukan obrolan ‘hahahah itu loh bang di Pand’s murah hahahahaha….’.

-Ringtone Handphone Bang Hendra-

‘Assalamualaikum’. .’Ini Nobita kayaknya hamil iya pap bilang daripada nghabisin waktu’ itu percakapan pribadi, aku ga boleh mencuri dengar.

Terdengar suara senandung lagu ‘mana janji manismu..’

Mas Afif Cuma menoleh dan bilang ke Chandra ‘wis ngono tok kuwi Chan ngono tok kuwi nyanyine?’

Chandra hanya tersenyum dan melanjutkan lagunya ‘janjimu palsu raimu koyok a*u’

Ini orang agak aneh…tapi kita bertiga bisa tertawa akhirnya. Setelah suasana agak mencair Chandra memberanikan diri

‘Bang, besok jadi meeting ga sih?’’ ndak…ditunda’

Sebelum Bang Hendra menyelesaikan kalimatnya itu, Chandra bilang ‘Alhamdulillah mo BBS, Buang Buang S….’

Aku tidak begitu mendengar  …’Opo?opo sih…opo to?’ ‘Buang Buang Sperma ‘kata bang Hendra. Mas Afif Cuma melihat ke arahku lalu tertawa kita semua.

‘Hahahaha sperma…hahahaha’

16.00

Mas Afif mulai sibuk dengan teleponnya

’Halo, Ded…FAP (Formulir Aplikasi) ne Susi ndi?’ Lalu Chandra mengeraskan suaranya berharap seseorang di seberang sana mendengar suaranya

‘Nek gelem di input nek rak yo wis’ Mas Afif Cuma menoleh saja.

‘Heh ndi..yoyo..kok malah misuh misuh..iyo..iyo…’

Lalu percakapan Mas afif berganti topic pembicaraan.

‘Nopo? Bang Hendra nggowo Danar Hadi loro, sing siji 235 sijine 345’

Ooo rupanya sibuk sekali teleponnya sampai tidak ada jeda tapi pembicara yang ditelepon sudah beda.

‘wakakakak…barangmu kuwi sing gedhi!!’

-Ringtone seruling Sunda-

‘Sunnah Rasul rak sah dibahas!!…iso koyok ngono ik!’Rupanya Mas Afif masih melanjutkan percakapan di telepon.

16.30

-Bunyi mesin fotokopi,-

Chandra kearah sana mengambil hasil fotokopi atau hasil cetakan halaman per halaman. Dia langsung berjongkok dan membuka tray ke dua pada mesin itu dan menutupnya kembali dengan kasar

‘Braakk!!’

….beberapa lembar kertas di sodorkan ke Bang Hendra

‘ ini dari mana?’ ‘ Purwodadi ..ini Peterongan’,

– Bunyi ringtone Handphone-

Sambil memegang telepon, Bang Hendra berusaha meraih kertas kertas fax yang harus ditandatangani tadi. Chandra maninggalkan kertas kertas tadi dan kembali mengerjakan sesuatu.

‘Halo…piye..kito presentasi ga?Aku aja sama mas Tri aja…iyo(‘o’ diucapkan seperti ‘memo’)..Apip biar survey aja..iyo(‘o’ diucapkan seperti ‘memo’) jam segini’

ahh sayangnya aku ga begitu ngerti Bahasa Sumatera jadi banyak kata kata yang miss.

Setelah percakapannya teleponnya selesai, ‘Pati report nya paling terakhir’ Bang Hendra menengok dan menyilangkan 2 tangannya ke belakang kepala ‘iyo (‘o’ diucapkan seperti ‘memo’)..ga bisa nonton Piala Dunia….hmm Joko Joko Joko’

-‘opo?Kesono wae..iyo he eh’ suara Anto menelepon dan menggema nyaring di sela sela pembicaraan kita bertiga. –

‘Jerman Inggris Itali…10.000 an aja’ percakapan laki laki pun dimulai ‘ah…berat tuh’

Lalu bunyi telepon sekali lagi memutus pembicaraan ‘Chan, Sri Lestari ki ndi, Chan?’, ‘Sampangan, sing Mami…’ ‘ohoho’

Lalu  tidak lama kemudian bunyi mesin fotokopi memuntahkan 3 lembar kertas

(Hening)

Chandra sibuk dengan mesin fax dan Scan –klothak klothak- ‘asem ik’ -Braakk!!!- Klothak klothak-

16.45

Mas Afif diluar dengan Anto…sambil merokok sepertinya obrolan mereka tidak begitu penting, Anto dengan kacamata hitam dan badan kurus jadi kelihatan aneh..tiba tiba mereka tertawa terbahak bahak diluar dan suara mereka menggema di ruangan yang hening. Sementara di dalam, Chandra mempersiapkan LVD (Lembar verifikasi Debitur) ya…kali ini dia pindah di meja RO mungkin dia agak pusing kalau terus terusan di depan layar komputer.

–Ringtone bunyi kodok- Chandra meraih Handphone dan berlalu ke kamar mandi

17.00

Always comes first Indardi dengan kebingungan entah kaget atau bagaimana karena melihat Bang Hendra duduk di kursi yang sedang serius memperhatikan laptopnya. Rupanya Guntur dan Adi juga mengikuti di belakangnya. Aku udah tau dan itu memang kebiasaan mereka memang selalu sengaja setiap pulang ke kantor selalu berkumpul  di suatu tempat dan berbondong bondong masuk kantor.

Akhirnya Bang Hendra bangun dari duduknya dan menepuk punggung Guntur yang tinggi besar ‘eh Guntur..Menggelegar…ei muka kamu kenapa?’ Guntur menjawab tapi suaranya yang Bass rendah membuat kalimatnya tidak terdengar, jadi hanya seperti dengungan saja.

‘Oh kirain brewok’ sambut bang Hendra.

Setelah Bang Hendra pergi ke lantai 2, Mas afif pasang muka sok merintah tapi sambil senyum senyum sama Guntur..’he…nek mangkat gawe DCAR sek…ojo nggawe KTP!!’

…aku langsung mengalihkan perhatian Guntur ‘ ndi slip e?’,’jam terbangku tinggi’ sambil ngasih slip..’sek engko sabar!’

Mas afif memang ga pernah selesai mengurus layar computer dan Telepon

‘ 55 dikurangi 7 kok akeh to, Chan’ sambil bergumam, lalu dia mendekati kertas yang tertempel di dinding yang berisi angka angka sambil membolak balik kertas di dinding itu .

Dan aku sedang sibuk meregister slip collection,

‘mbak iki aku salah nulis rekening’…’ehm…’sambil menganggukan kepala ke Endi.

‘eh KD (Kartu Debitur) mu ndi?’ Yoga yang selalu sibuk dengan pikiran pikirannya sendiri selalu berusaha menjadi sempurna ‘ oooh siap to yoo!!! ‘,’ sing mau mbok tip-ex ikae to??’ ‘ Reky dan Dedi ikut tertawa sambil Fajar menyambung ‘ wahahaha konangan!’

Chandra lagi lagi mendistribusikan bakal Perjanjian kredit ke Dedi  si pemilik Account .

‘ iki lho rak disingkat.. Raden Roro’, ‘wajahnya agak terintimidasi ‘ oo iya deng’, Chandra terus menanyai hal hal yang kurang

‘ KTP ne ndi?’ ‘ iki iki…nomer e 99’

18.00

Bang Hendra juga mulai menyelesaikan tugasnya mengejar ngejar OnCa (On Cair) di setiap sudut unit yang dipercayakan oleh dia.

‘Pati 137…cacam!!Kudus kosong…Rully’ sambil mendengus…

Dan dia menelepon mana lagi aku ga begitu jelas, hanya percakapan

’ halo..bisa berapa juta besok?…yang 8 juta sore…trus…berarti kapan kamu bisa?’ Senin ya!ada tamahan lain ga?hm…6 juta..top up tu ada Mpk sudah saya teken belum? Bungkus pagi pagi….oo baru kirim sore ini’ terdengar penekanan pada kalimat yang mengandung perintah atau tanda seru.

‘Kowe nek meh ngenteni PK (Perjanjian kredit) jam wolu’ Chandra melanjutkan omelannya ke Dedi ‘ iki 197….2 sek iki tak bendel sek..iki balikke debitur e!’

Lalu di interupsi Mas Afif ‘ Chan aku itungke 687 nek sak mene…’

Belum menyelesaikan kalimatnya Bang Hendra berbicara ‘ Kita rata rata 90,Pip!!347…348  ya bisa…kalo yang 18 masuk juga, bagus itu! Mulai tengah bulan saya mulai pantau Flow Rate nya…iya saya kerasin!’

Mas Afif Cuma menjawab ‘ di  X Thirty biasanya’ Bang Hendra terus melihat laptopnya dan bilang ‘ pokoknya harus masuk itu’

Dhedy mulai mengganggu dirku ‘mbak njaluk iki…’ aku langsung kearah Filling Cabinet dan membuka FAP

‘ duduk FAP…lha iki’ oo rupanya dia menunjuk kertas map mika bening.

Chandra menyambung ‘ Dhed, iki wong e dipastikke sek wae gelm po rak!!’ Dedi langsung cabut keluar untuk pulang tapi dengan alasan akan menandatangani Perjanjin Kredit

‘ Bang, saya PK dulu’ lalu Mas Afif menasehati ‘ ojo ngebut!’ dan

Bang Hendra  menyambung dengan kalimat lain ‘ berapa umurmu?21? ngebut ga papa kalo saya Apip waduh…wis buktikan kalo IP mu 3.5’ dan kamipun tertawa lagi…

18.30

Akhirnya pekerjaan sudah selesai, dan waktu sudah mau malam…aku langsung berkemas untuk pulang dan meninggalkan Chandra, Mas Afif dn Bang Hendra dengan posisi sibuk memperhatikan layar komputer..

’Chan, Mas, Bang saya pulang duluan’…

Lalu aku melewati pintu kaca lagi dengan tulisan ‘Kantor Fungsional’ dan bersiap siap memasukkan kontak sepeda motor dan start gas sambil menyiapkan lagu di Handphone untuk didengarkan di telinga…lumayan bisa menemani perjalanan selama 9.5 km atau tepatnya 20 menit menuju rumah.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: